Saran Mengenai Program Guru Sambang
Sri Lestari
Saran dan masukan tentang Program Guru Sambang "Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu." (Kahlil Gibran) Dimasa pandemi covid ini, pendidikan anak sungguh menjadi dilema besar bagi orangtua. Antara kekhawatiran dan harapan. Antara ketakutan dan pencapaian cita-cita. Di jembatan perasaan itulah orangtua meniti hari-harinya saat ini. Terkait dengan pendidikan anak-anak dimasa pandemi ini kami sebagai orangtua walimurid, paham betul dengan kekhawatiran yang sama yang juga dirasakan oleh pemangku kebijakan pendidikan di Lumajang dalam hal ini Dinas Pendidikan Kab Lumajang. Hingga akhirnya membuat program yang diharapkan menjadi solusi pendidikan saat pandemi dengan adanya guru sambang. Bukan bermaksud mengecilkan niat baik dan upaya dari semua pihak, Program Guru Sambang mungkin perlu dilakukan evaluasi yang detail. Jangan hanya atas nama "inovasi" tetapi mengabaikan efektifitas dan efisiensi bahkan keselamatan guru dan anak didik. Beberapa hal yang mungkin dapat dipertimbangkan dan dievaluasi : 1. Lokasi yang menggunakan rumah walimurid, memiliki resiko kesehatan yang lebih besar daripada di sekolah. Karena guru dan murid, sebagai tamu. Bila ada hal yang tidak sesuai protokol kesehatan, dimungkinkan ada perasaan enggan dari guru saat menegur maupun mengatur tuan rumah. Dan datang bertamu ini justru seperti memasukkan guru dan murid dalam medan tidak dikenal. 2. Waktu pelaksanaan sangat minimal. Dengan frekuensi pertemuan yang terbatas dan durasi pertemuan terbatas, kemanfaatan juga sangat kecil. 3. Sumberdaya yang besar. Guru dan murid harus datang ke tempat tertentu. Terutama guru yang harus berkeliling, itu membutuhkan upaya lebih besar. 4. Suasana tidak selalu kondusif. Dimungkinkan banyak distraksi/pengalihan fokus saat pelaksaan proses belajar mengajar di lokasi. Itu adalah hal-hal yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi terkait guru sambang. Kebijakan pemerintah soal pendidikan memang masih pembelajaran secara daring. Tetapi cara itu juga ada yang tidak dapat melaksanakan terutama di daerah tertentu. Dan bila memang proses belajar mengajar harus dilakukan secara tatap muka, solusinya adalah kembali ke sekolah. Dilakukan asessment/penilaian awal terkait kesiapan sekolah. Jadwal siswa masuk sekolah bergantian agar dapat dilakukan physical distancing. Penerapan protokol kesehatan yang ketat di sekolah. Pengurangan jam belajar, tanpa jam istirahat. Terus menerus dilakukan monitoring dan evaluasi untuk perbaikan. Solusi ini dimungkinkan lebih nyaman baik bagi siswa, guru maupun wali murid. Tantangan terbesarnya bagi institusi pendidikan adalah meyakinkan semua pihak bahwa proses belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan aman. Ini adalah harapan kami sebagai orangtua walimurid, dari sudut pandang kami pribadi. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Dan semoga pandemi ini segera berlalu.